Dear Handra,
Sesorang yang tetap berharap akan ada orang yang bisa mengerti dia walaupun kenyataannya memang tidak ada ada seorangpun yang bisa mengerti dia sepenuhnya. Seseorang yang mengharapkan kehidupan yang indah, walaupun dia tahu dan telah menghadapi beratnya hidup itu. Seseorang yang berjuang untuk memperbaiki banyak hal yang sebenarnya dikarenakan kesalahan orang lain dalam menilai dirinya. Seseorang yang dibuat pusing oleh otaknya sendiri dan berusaha mengendalikannya. Orang yang berusaha berpikir positif dibalik banyaknya kenegatifan yang menerpa. Seseorang yang berusaha tersenyum walaupun tahu apa yang telah dilakukan orang itu kepadanya. Seseorang yang berusaha tegar dibalik air matanya yang terlihat murahan. Seseorang yang mencari cinta dan menemukan penilaian objektif dari semua orang yang akhirnya membuatnya jatuh pasrah. Seseorang yang berusaha mencintai secara tulus, berharap dengan pasti, dan membayangkan segala keindahan memiliki sebuah cinta, dicengkram oleh belenggu image dan kenangan masa lalu. Jatuh, dan melihat cinta seperti sebuah cahaya yang tak tergapai yang semakin menjauhinya. Keindahan yang telah berlalu berubah menjadi sebuah harapan kosong. Harapan seolah - olah seperti barang mahal yang tak terbeli. Semua usaha, perhatian, bantuan, yang diberikan sepenuh hati, tampak sebagai sebuah tujuan terselubung bagi orang lain. Dan semuanya meninggalkan dia.....
Sebuah ketukan, "tok tok tok!!" ( Hmmm... hal yang biasa. )
Sebuah ketukan yang keras, "DOk Dok DOk!!!" ( Ada apa ini??!! )
Dan saat membuka pintu hatinya. Dia melihat tangan, banyak sekali tangan, bahkan semua yang ditatapnya hanyalah tangan. Tangan - tangan yang menggapainya, seolah - olah tangan - tangan dari orang - orang yang kelaparan berebut makanan yang sedang dibagikan. Tangan - tangan dengan sebuah papan yang tergantung dengan tulisan "care". Saat cahaya menghilang dari hatinya, kehangatan datang menggantikan kegelapan tersebut. Tidak perlu selalu ada cahaya, tetapi saat kehangatan datang, dia sendirilah yang bisa bercahaya. Tak sanggup menahan tarikan - tarikan dari banyaknya tangan, diapun ditarik. Keluar, lepas, dan melihat. Setiap tangan tersebut menyentuh setiap bagian di hidupnya. Tangan yang menghapuskan air mata, tangan yang membelai rambutnya dengan sebuah kasih sayang, tangan yang menepuk pundaknya dan seolah - olah berkata, "Tegarlah!", tangan yang merangkulnya dengan kasih seorang sahabat, tangan yang menggandengnya bersama menghadapi 'badai', tangan yang menopangnya disaat dia jatuh, tangan yang menjewer kupingnya untuk mengingatkannya, tangan yang menggenggam erat tangannya, dan akan datang sebuah tangan yang memegang dadanya dan berkata, "Aku menyayangimu". Kemudian sebuah tangan yang terlihat amat tidak asing datang dan menggenggam keseluruhan dirinya. TanganNya.
Dia mengingat kembali bahwa segala sesuatu tentunya memiliki sebab akibat. Berharap itu baik, tetapi berharap tanpa bertindak adalah seperti sebuah mimpi di siang bolong. Sama seperti bernyanyi di WC tanpa ada yang tahu bahwa kamu bisa bernyanyi.
Continued...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar