23 Maret, 2008

Puisi di waktu... Part 2

Puisi ini ku buat khusus ku dedikasikan kepada diriku sendiri yang waktu itu merasa kalo.. Hidup itu ga berarti. Tuhan terlalu jahat dan kejam padaku dan ga da seorangpun yang mao mencoba mengerti, hanya menilai dan menilai saja bahwa handra adalah orang yang begini dan begitu. Dan akhirnya ya sejelek itulah yang kalian kira seorang handra itu. Hehe..


Dalam hati ku bertanya…
Hidup seperti apa sih yang akan ku hadapi nanti??
Akan menjadi seperti apa aku ini??

Ku menatap ke dalam diriku dalam dalam dan menemukan kekecewaan…
Kekecewaan di balik kenyataan bahwa aku tidak bisa berbuat apa – apa….
Aku hanya penghalang bagi yang lain.
Aku hanya sebuah batu loncatan bagi yang lain.
Aku hanya alat dan hanyalah sebuah alat.

Aku hanya mie instant yang selesai digunakan dibuang.
Aku hanyalah sampah..

Ku terpuruk dan terdiam… Kuterpaku melihat indahnya hidup orang lain.
Ingin ku berteriak.. Menjerit… Memekikkan semua isi hatiku kepada semua orang.
Dan ku pendam.. Dalam.. Ke dasar hati hidupku.

Belum puas kah ku diberi hidup yang seperti ini?? Puih!! Beryukur pun ku tak mampu lagi.
Apakah aku harus bersyukur sambil menatap senyuman orang – orang yang menginjak – injak ku??
Apakah aku harus tersenyum melihat perbuatan jahat dari orang baik??
Tidak ada itu pun aku sudah tak ingat lagi bagaimana caranya bersyukur.

Ku tersenyum di balik banyaknya tujuan - tujuan dan harapan – harapan kosong.
Seyuman seseorang bagaikan duri dari setangkai mawar. Indah dilihat, kejam di dalamnya..
Tak pernah bisa ku menganggap itu sebuah senyuman yang murni lagi.

Tidak ada komentar: